Yuk Mengenal Lebih Dalam Tradisi Pernikahan Begalan Asal Banyumas

 Tradisi Pernikahan Begalan Banyumasan

Di Indonesia pesta pernikahan dengan menonjolkan sisi adat atau tradisi masih cukup diminati, walaupun arus globalisasi makin kencang sehingga tema pernikahan modern atau internasional juga menjadi pilihan terutama kaum milenial. Sebagian orang masih mempercayai tradisi mereka dengan memakai tema adat/tradisi dari masing-masing daerah mereka pada acara pernikahan seperti adat Minangkabau, Jawa, Sunda, dan lain-lain.

Kali ini penulis akan mengulas mengenai tradisi begalan, yaitu tradisi pada acara pernikahan yang berasal dari Banyumas Jawa tengah. Tradisi Begalan ini menjadi bagian penting bagi masyarakat Banyumas, sehingga kurang lengkap pesta pernikahan mereka bila tradisi ini belum terlaksana. Tradisi Begalan biasanya akan dilakukan terutama pada pernikahan yang calon pengantin lelakinya merupakan anak bungsu atau anak sulung. Untuk itu mari kita simak ulasannya berikut ini.

  1. Sejarah
    Asal kata “Begalan” berasal dari bahasa jawa yang mempunyai arti perampokan atau pencurian. Menurut para pakar sejarah tradisi begalan bermula saat Adipati Wirasaba mempunyai hajat untuk menikahkan putrinya Dewi Sukesi dengan Pangeran Tirtokencono yang tak lain merupakan putra sulung Adipati Banyumas.
    Pada saat itu akan diadakan acara ngunduh mantu untuk membawa kedua mempelai dari Wirasaba ke Banyumas. Ditengah perjalanan rombongan dicegat oleh para perampok atau biasa disebut “Begal” dan mereka berhasil dikalahkan. Setelah kejadian itu para tokoh leluhur banyumas berpesan kepada generasi berikutnya agar menaati tata cara pernikahan agar terhindar dari bencana, marabahaya, dan hal-hal yang menghambat.
  2. Proses Tradisi Begalan.
    Tradisi pernikahan ini akan dijalankan apabila pengantin lelaki merupakan anak sulung. Tradisi ini sebenarnya merupakan campuran antara seni tari, seni ucap atau tutur, dan seni lakon lawak yang diiringi dengan music gending Jawa yang khas. Biasanya ada 2 penari yaitu Gunareka yang diceritakan membawa barang seserahan dan Rekaguna yang diceritakan sebagai perampok. Saat mereka menari biasanya menggunakan pakaian Jawa.
  3. Ketentuan Tradisi Begalan.
    a.Lokasi yang biasa digunakan adalah halaman rumah pengantin wanita, atau sekarang bisa juga di ballroom.
    b.Ucapan atau pesan-pesan nasihat yang ditujukan untuk kedua mempelai dan penonton serta dibawakan dengan cara yang lucu sehingga terkadang mengundang gelak tawa.
    c. Pelaksanaan tradisi Begalan biasanya dimulai pada waktu siang atau sore dengan durasi kurang lebih 1 jam.
    d. Tarian dibawakan oleh Gunareka dan Rekaguna yang diiringi musik gending jawa
  4. Wardrobe.
    a. Baju Kokok berwarna hitam.
    b. Stagen dan ikat pinggang.
    c. Celana Komprang hitam.
    d. Sarung
    e. Selendang
    f. Ikat wulung hitam.
    g. Bedak dan sepuhan.
    h. Pikulan.
    i. Pedang Kayu.
    j. Brenong Kepang dan peralatan dapur.

Nah sekian artikel mengenai Tradisi Begalan Banyumasan. Oiya bagi kalian yang ingin melangsungkan pernikahan dengan Tradisi Begalan, Jawa, dan adat-adat lainnya kamu bisa menghubungi BRP Gedung Perkawinan. BRP ini sangat berpengalaman menghandle perkawinan adat Jawa maupun adat yang lainnya lengkap di ke-4 Ballroom nya di Jakarta Selatan. Pokoknya vendor-vendor terbaik dan ternama telah bekerjasama dengan BRP.

Untuk lebih jelasnya kamu bisa cek di www.gedungperkawinan.com, dan juga sampai ketinggalan beragam promo-promo menarik dari kami ya dan segera booking di salah satu Ballroom BRP.

Semoga informasi yang kami sampaikan bisa menjadi referensi rencana pernikahanmu.

Ternyata Roti Buaya Dalam Tradisi Pernikahan Betawi Ada Arti Filosofinya Lho

 filosofi roti buaya gedungperkawinan.com

Untuk mereka yang menyelenggarakan pernikahan adat betawi, pastinya mereka tidak akan melupakan yang namanya roti buaya sebagai bagian kelengkapan dari tradisi pernikahan adat betawi. Sepasang roti buaya biasanya dibawa oleh pengantin pria yang nantinya akan dipajang di acara pernikahan. Mereka Percaya bahwa roti buaya merupakan perlambang dari sebuah kesetiaan antar pasangan.

Menurut penuturan JJ Rizal yang merupakan ahli sejarah betawi, Seekor buaya sejatinya hanya mempunyai satu pasangan seumur hidupnya dan atas dasar hal inilah mempelai pria wajib membawa sepasang roti buaya. Namun banyak juga yang bertanya apakah roti buaya ini setelah acara pernikahan akan dimakan atau dibagikan? Ternyata tidak.

Ada persaaan was-was apabila tradisi pemberian sepasang roti buaya ini akan hilang, namun salah satu tokoh betawi di Jakarta yang bernama Haji Ilyas berkata, “Kite punya adat gak bakal ilang, nyang pake masih banyak, kite bias ambil contoh kayak di Condet, Palmerah, sampe ke Bekasi, malahan sampe Tangerang juga”.

Fakta menarik lainnya adalah, roti buaya akan dibiarkan terus dipajang dirumah hingga rusak, berjamur, dan berbelatung. Hal ini mempunyai maksud bahwa cinta mereka hanya akan terpisahkan oleh kematian. Biasanya mempelai pria juga turut menyertai sepasang roti buaya berukuran mini juga untuk mendampingi yang besar. Hal itu mempunyai arti cintanya akan awet hingga beranak-cucu.

Di BRP Gedung Perkawinan, calon pengantin dapat memilih tema pernikahan yang diinginkan salah satunya adalah pernikahan bertemakan tradisi Betawi yang memang merupakan salah satu favorit tema pernikahan. Untuk informasi lebih lengkap silakan kunjungi www.gedungperkawinan.com

Di BRP Gedung Perkawinan, calon pengantin dapat memilih tema pernikahan yang diinginkan salah satunya adalah pernikahan bertemakan tradisi Betawi yang memang merupakan salah satu favorit tema pernikahan. Untuk informasi lebih lengkap silakan kunjungi www.gedungperkawinan.com

Semoga informasi yang kami sampaikan bisa menjadi referensi rencana pernikahanmu.